Inter Milan Juara Liga Italia, Steven Zhang Presiden Non-Italia Pertama yang Raih Scudetto

Inter Milan dinobatkan sebagai kampiun Serie A Liga Italia menyusul hasil imbang Atalanta saat melawan Sassuolo, Minggu (2/5/2021) malam. Atalanta hanya bermain imbang 1 1 lawan Sassuolo yang membuat gap poin dengan Inter Milan di posisi puncak menjadi 13 poin. Dari 4 pertandingan sisa Serie A Liga Italia, tidak akan mungkin akan bisa terkejar lagi, meskipun Inter Milan kalah hingga akhir musim, karena masih unggul satu poin.

Presiden Inter Milan Steven Zhang dikabarkan akan terbang ke Milan awal pekan ini untuk bergabung dalam perayaan Nerazzurri meraih Scudetto setelah puasa selama 11 tahun. Bagi Steven Zhang, dia tercatat sebagai Presiden non Italia pertama yang berhasil memenangkan Scudetto Serie A Liga Italia. Keberhasilan ini dia persembahkan untuk fans Inter Milan di seluruh dunia.

"Ini sangat emosional, dan waktu yang spesial bagi semua orang yang terlibat dalam proyek ini, dan yang telah bersama kami dalam perjalanan ini," kata Zhang dalam situs resmi Inter Milan. "Terima kasih pertama tama kepada para penggemar, kepada mereka yang bekerja bersama kami dan tentunya kepada pelatih kami, Antonio Conte dan kepada para pemain yang telah bekerja sangat keras untuk membawa pulang gelar ini Scudetto," jelasnya. Zhang juga berterima kasih kepada seluruh karyawan yang ada dalam tubuh Inter Milan, yang turut serta mendukung kinerja tim hingga meraih kesuksesan.

Tak lupa dengan presiden Inter Milan, Massimo Moratti. "Terima kasih khusus kepada ayah saya dan Massino Moratti yang telah membimbing saya selama bertahun tahun, mendukung saya dari sudut pandang emosional dan mental dan membantu saya memahami apa itu Inter. "Saya berharap kegembiraan di saat yang sulit ini dapat memberikan sedikit energi positif kepada semua orang," jelasnya.

Antonio Conte adalah sosok yang berhasil membawa Inter Milan menjadi jawara Serie A Liga Italia musim 2020 2021, dan juga sebagai suksesor yang memutus hegemoni Juventus dalam 9 musim terakhir. Padahal ketika dulu menjadi pelatih Juventus, dia adalah salah satu sosok yang membawa keberhasilan Bianconeri higga bisa meraih 9 Scudetto beruntun. Hilir mudik Conte mencoba peruntungan, diangkat menjadi pelatih Timnas Italia, dan menjadi nahkoda untuk Chelsea setelah dari Juventus.

Hingga akhirnya yang terbaru menjadi juru taktik untuk tim Inter Milan yang dimulai pada Mei 2019. Conte datang dengan segudang pr yang ada dalam skuat hitam biru Nerazzurri. Hal itu diakuinya, tim yang tidak kompetitif atau tida memiliki sumber daya untuk mencapai sesuatu yang penting.

"Itu sulit, karena bukanlah pilihan yang mudah bagi saya untuk datang ke Inter, pada saat tim tidak kompetitif atau tidak memiliki sumber daya untuk mencapai sesuatu yang penting," buka Conte dalam wawancara dengan 90 Minuto di Rai 2, dikutip dari Football Italia. "Ditambah saya pergi ke klub yang menjadi rival dengan Juventus, di mana saya bermain selama bertahun tahun, dan yang mendominasi di Liga Italia. "Ada banyak situasi negatif yang saya alami," jelas Conte.

Dengan tangan dingin dan pemikirannya, musim pertama dilalui dengan finis di peringkat 2 klasemen akhir Liga Italia. Kondisi saat itu Inter Milan hanya selisih satu poin dari Juventus di akhir musim. Gebrakan dan pemain baru masuk, seperti Lukaku dan Hakimi, bahkan hingga Sanchez.

Hal itu cukup membuktikan bahwa Inter serius dalam perburuan Scudetto. Cobaan harus dilalui dari sisi lain, Inter Milan tersisih dari Liga Champions dan hanya mampu bertahan di babak penyisihan grup. Hal itu cukup menjadi cercaan untuk Conte dengan materi pemain yang dia miliki.

Tapi, dengan semangat juang dan kerja keras yang menjadi prinsipnya, Inter Milan saat ini sukses meraih gelar ke 19 Serie A Liga Italia setelah berpuasa 11 tahun. "Kami akan tidur malam ini dengan sangat senang dan apa yang telah kami capai," tutur Conte. "Kami senang untuk kami, utuk orang orang yang bekerja untuk membawa Inter kembali ke jalur kemenangan, untuk penggemar kami.

"Kami pasti akan merasa lebih rileks sekarang," lanjut Conte. Dia mengenang, kegagalan di Liga Champions adalah yang terburuk bagi Inter Milan. "Saya pikir momen terburuk adalah ketika kai tersingkir dari Liga Champions, ketika kritik yang kami terima mungkin berlebihan.

"Itu tidak mudah bagi kami, kami memiliki sekelompok pemain yang tidak terbiasa menang. Kami melakukannya dengan baik untuk berkumpul dan menerima kritik sehingga kami bisa menjadi lebih kuat. "Apa yang membawa kami menuju kemenangan adalah bahwa para pemain ini mempercayai saya. Saya menunjukkan jalan kepada mereka mempercayai saya sepenuhnya. Pada akhirnya kami menemukan jalannya," tuturnya. Terkait gelar Scudetto, Conte mempersembahkan untuk sang istri, dan keluarganya, serta Gabriele 'Lele' Oriali, yang menjabat sebagai manajer teknis Inter Milan saat ini.

"Saya mempersembahkannya (Scudetto) untuk mereka yng dekat dengan saya, istri saya, anak perempuan saya, saudara laki laki saya. "Saya juga berterima kasih kepada Lele Oriali, yang penting bagi saya dan paling mempengaruhi saya selama bertahun tahun," pungkasnya. Oriali juga pernah bekerja dengan Conte di timnas Italia sebagai staf sebelum ikut ke Inter Milan.

Berita Liga Italia dan Inter Milan

Leave a Reply

Your email address will not be published.